Minggu, 13 Mei 2012

“GEJOLAK PERTANIAN DI INDONESIA”


Pendahuluan


Pertanian adalah suatu kegiatan yang dilakukan oleh masyarakat tertentu untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, selain itu pertanian merupakan salah satu sektor penting dalam pertumbuhan ekonomi suatu negara yang mencakup Pendapatan Naasional dan Produk Domestik Bruto. Dalam pelaksanaannya pertanian juga berperan dalam pembangunan ekonomi yaitu melalui kegiatan eksport-import hasil pertanian seperti ; beras, rempah-rempah, kopi, dll.
Indonesia merupakan salah satu dari sekian banyak negara-negara sedang berkembang (NSB) yang memiliki karakteristik dari sektor pertanian yang memiliki tingkat produktivitas yang rendah dibandingkansektor-sektor lainnya, Khususnya industri manufaktur. Hal ini disebabkan oleh dua hal yakni ; dari sisi permintaan elastisistas pendapatan dari permintaan terhadap komoditas pertanian lebih kecil dari pada elastisitas pendapatan dari permintaan terhadap produk-produk dari sektor lain, seperti barang-barang industri. Jadi, dengan peningkatan pendapatan , laju pertumbuhan permintaan terhadap komoditas pertanian relatif lebih kecil dibandingkan permintaan konsumen terhadap barang-barang industri. Dari sisi penawaran (produksi) pun tingkat produktivitas di pertanian relatif rendah.
Dengan membahas masalah ini diharapkan kita dapat meningkatkan produktivitas pertanian dengan cara ; memperluas lahan pertanian, mencari pangssa pasar yang lebih luas, meningkatkan hasil panen, meningkatkan kualitas hasil produksi dengan menggunakan bibit unggul.




Landasan Teori


A.   Revolusi Hijau
-          Penggunaan lahan pertanian dan pupuk
-          Luas lahan irigasi
-          Pusat produksi padi di Indonesia
-          Pemakaian input-input modern di pertanian Indonesia

B.   Perkembangan sektor peertanian
1.    Kontribusi PDB
-          Pertumbuhan PDB
2.   Peertumbuhan output dan produktivitas
-          Perkembangan jangka panjang indeks produksi pertanian

C.   Ketahanan pangan
1.    Pentingnya ketahanaan pangan
2.   Konsep ketahanan pangan
3.   Faktor utama penentu ketahanan pangan di Indonesia
-          Lahan
-          Infrastruktur
-          Teknologi dan Sumber Daya Manusia (SDM)
-          Energi
-          Modal
-          Cuaca





Pembahasaan Materi

A.  Revolusi hijau

Selama Orde Baru, industry dan pertanian merupakan dua sector prioritas. Untuk mendukung pembangunan pertanian, pemerintah pada waktu itu melaksanakan modernisasi atau intensifikasi, dikenal dengan sebutan “Revolusi Hijau”. Waktu itu ekonomi Indonesia juga belum terdiversifikasi : sumbangan output pertanian terhadap pembentukan produk domestic bruto (PDB) tercatat sebesar 50% dan juga merupakan sector terbesar dalam pemberian lapangan kerja (sekitar 70% dari jumlah penduduk).
Sebelum revolusi hijau dimulai, lahan irigasi (teknis dan nonteknis) meningkat dengan rata-rata 1,4% setiap tahunnya dan selama revolusi hijau meningkat dengan lebih dari setengah ke 2,3% pertahun, tapi setelah itu merosot secara signifikan ke 0,3% pertahun.

Kuantitas dan laju pertumbuhan rata-rata pertahun dari pemakaian lahan dan input-input modern dipertanian

Kuantitas
Laju pertumbuhan (% pertahun)
1961-65
1971-75
1981-85
1991-95
1961-2000
1961-67
1968-92
1993-2000
Lahan (juta ha)
17,6
18,9
26,0
32,2
2,0
0,3
2,3
2,1
Lahan irigasi (juta ha)
2,4
2,7
3,3
4,6
1,8
1,4
2,3
0,3
Pupuk pabrik (juta ton)
0,1
0,4
1,7
2,5
10,6
1,7
16,0
0,1
Mesin (juta tenaga kuda)
0,1
0,2
0,2
0,6
11,5
7,5
14,3
5,9
Pupuk/ lahan (kg/ha)
6,9
22,7
64,0
76,3
8,5
1,3
13,6
-2,0
Sumber: Fuglie (2004) (data dari BPS dan FAO)

Sedangkan data dari Departmen Pekerjaan Umum(PU) menunjukan bahwa selama periode 1999-2005, peningkatan lahan sawah beririgasi di Indonesia dengan jumlah penduduk 220 juta jiwa hanya 0,47 juta ha dari 6,23 juta ha jadi 6,7 juta ha. Jauh lebih rendah dibandingkan india dengan 1,1 miliar orang yang luas lahan irigasinya tumbuh 16 juta ha, dari dari 59 juta ha jadi 75 juta ha, dan China lebih kecil langi yaitu 1,3 miliar orang yang penambahannya mencapai 40 juta ha dari 54 juta ha menjadi 94 juta ha.
Pada table dibawah ini ditunjukan bahwa luas lahan irigasi teknis di Indonesia tidak merata. Di Pulau Jawa pada tahun 2004 paling luas, yaitu mencapai sekitar 1,5 juta ha atau lebih dari setengah luas lahan irigasi teknis diseluruh Indonesia dan yang paling kecil adalah Bali, Nusa Tenggara Timur (NTT), Nusa Tenggara Barat (NTB) yang hanya 84 ribu ha lebih.

Komposisi lahan pertanian basah di Indonesia menurut wilayah 2004
Tipe lahan
Luas lahan (ha)
Sumatra
Jawa
Bali, NTT,NTB
Kalimantan
Sulawesi
total
Irigasi teknis
321.234
1.516.252
84.632
24.938
262.144
2.209.200
Irigasi semi teknis
257.771
402.987
173.364
33.297
121.402
988.821
Irigasi perdesaan
455.235
615.389
92.070
189.326
234.933
1.586.953
Sawah tadah hujan
550.440
777.029
68.380
339.705
279.295
2.015.349
Rawa lebak
288.661
776
29
323.556
2.179
615.201
Pasang surut
230.621
4.144
72
97.603
884
333.324
jumlah
2.103.962
2.316.577
418.547
1.008.425
900.837
7.748.848
Sumber: statistic pertanian 2004, Departemen Pertanian (Deptan)              

Karna lahan irigasi terpusatkan di Jawa, maka pulau Jawa paling banyak jumlah sentra produksi padi/ beras. Pada table berikut ini ditunjukan kabupaten Indramayu di Jawa barat merupakan sentra terbesar, dibanding karawang.

Sentra-sentra padi di jawa 2004
Kabupaten
Produksi (ton)
Luas lahan (ha)
Indramayu
1.080.306
196.514
Karawang
962.424
178.614
Subang
891.572
171.541
Jember
692.933
135.373
Bayuwangi
679.079
108.980
Lamongan
663.587
120.268
Cilacap
628.001
121.870
Bojonegoro
602.926
106.623
Pandeglang
570.464
116.521
Grobogan
552.034
95.876
Demak
512.839
92.148
Sleman
253.873
44.749
Sumber: statistic pertanian 2004, Departemen Pertanian (Deptan)

       Perkembanagan input-input modern pertanian di Indonesia juga sangat intensif selama periode revolusi hijau, yang rata-rata lebih dari 10% pertahun antara 1961-2002. Laju pertumbuhan pemakaian traktor  , mengalami suatu peningkatan dari sekitar 7,5% pertahun sebelum era revolusi hijau sekitar 14,3% pertahun selama pelaksanaan strategi tersebut. sedangkan dalam hal pupuk nonorganic, Indonesia sanagt tinggi dibandingkan dengan Negara-negara Asia lainnya. Dalam 10 hingga 20 tahun, laju pertumbuhan rata-ratanya pertahun meningkat dari sekitar 1,7% dalam decade 60an ke 16% selama periode 1970an – 1980an.

B.  Perkembangan Sektor Pertanian

1.   Kontribusi PDB

Pangsa output agregat (PDB) dari pertanian relatif menurun, sedangkan di Industri manufaktur dan sektor-sektor sekunder lainnya dan sektor tersier meningkat. Penurunan  kontribusi output dari perrtanian terhadap pembentukan PDB ini bukan berarti volume produksi di sektor tersebut berkurang, tetapi laju pertumbuhan outputnya lebih lambat dibanding laju output di sektor-sektor lainnya.
Pada tahun 2011 (sampai dengan Triwulan III), PDB sektor pertanian (di luar perikanan dan kehutanan) tumbuh sebesar 3,07%, di mana tingkat pertumbuhan tersebut lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan tahun 2010 yang hanya 2,86%. Pertumbuhan tersebut berasal dari sub sektor perkebunan (6,06%), disusul dengan sub sektor peternakan (4,23%), dan sub sektor tanaman bahan makanan (1,93%). Kontribusi PDB sektor pertanian (di luar perikanan dan kehutanan) terhadap PDB  nasional pada tahun 2011 tersebut mencapai 11,88%, lebih tinggi dibandingkan tahun 2010 yang baru mencapai 11,49%.

Pertumbuhan dan kontribusi PDB sector pertanian (diluar perikanan dan kehutanan) tahun 2009-2011
Sector/ Sub sector
Tahun
2009 (%)
2010 (%)
2011* (%)
Pertumbuhan PDB
3,98
2,86
3,07
-          Tanaman Bahan Makanan
4,97
1,81
1,93
-          Tanaman Perkebunan
1,84
2,51
6,06
-          Peternakan dan Hasilnya
3,45
4,06
4,23
Kontribusi terhadap PDB Nasional
11,34
11,49
11,88
Sumber: BPS, diolah Pusdatin
*) sampai triwulan III 2011, dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2010

2.   Pertumbuhan output dan produktivitas

Kebijakan revolusi hijau menekan pada pertumbuhan output atau maksimalisasi produktivitas dari factor-faktor produksi , yaitu tenaga kerja lahan dan modal. Maka, diperkenalkanlah pola-pola penanaman yang padat karya. Di sector pertanian pertumbuhan output terjadi bersamaan dengan peningkatan kesempatan kerja.
Produksi pertanian di Indonesia mulai meningkat sejak akhir 1960an hingga periode 1990an. Perkembangan jangka panjang dari indeks produksi di sector pertanian  pada tahun 1997 hingga 2000 produksi pertanian Indonesia melemah, itu disebabkan karna krisis ekonomi 1997/98. Namun pada tahun 2000 dan 2001 produksi pertanian kembali meningkat. Walaupun pertumbuhan output secara total tinggi, tapi jika produktivitasnya rendah itu berarti penerapan teknologi dan pola produksi modern tidak terlalu bermanfaat.
Pada table data dari BPS ini menunjukan luas panen Indonesia pada tahun 2009 adalah yang paling luas dibandingkan provinsi lain yaitu 12.883.576 ha, sedangkan yang terkecil dimiliki oleh kepulauan riau hanya sekitar 144 ha. Dari data ini juga dapat dilihat provinsi yang memiliki produktivitas yag tertinggi adalah jawa timur sebesar 59,11 ku/ha dengan produksi 11.259.085 ton, sedangkan provinsi yang memiliki produktivitas rendah yaitu Bangka Belitung 24,64 ku/ha dengan produksi 19 864 ton.



Tabel luas panen, produktivitas, produksi tanaman padi seluruh provinsi
Provinsi
Jenis Tanaman
Tahun
Luas Panen(Ha)
Produktivitas(Ku/Ha)
Produksi(Ton)
Indonesia
Padi
2009
12 883 576 
49,99 
64 398 890 
Aceh
Padi
2009
359 375
43,32 
1 556 858 
Sumatera Utara
Padi
2009
768 407 
45,91 
3 527 899 
Sumatera barat
Padi
2009
439 542 
47,91 
2 105 790 
Riau
Padi
2009
149 423 
35,57 
531 429 
Jambi
Padi
2009
155 802 
41,40 
644 947 
Sumatera Selatan
Padi
2009
746 465 
41,87 
3 125 236 
Bengkulu
Padi
2009
132 975 
38,37 
510 160 
Lampung
Padi
2009
570 417 
46,88 
2 673 844 
Bangka Belitung
Padi
2009
8 063 
24,64 
19 864 
Kepulauan Riau
Padi
2009
144 
29,86 
430 
DKI Jakarta
Padi
2009
1 974 
55,79 
11 013 
Jawa Barat
Padi
2009
1 950 203 
58,06 
11 322 681 
Jawa Tengah
Padi
2009
1 725 034 
55,65 
9 600 415 
DI Yogyakarta
Padi
2009
145 424 
57,62 
837 930 
Jawa Timur
Padi
2009
1 904 830 
59,11 
11 259 085 
Banten
Padi
2009
366 138 
50,50 
1 849 007 
Bali
Padi
2009
150 283 
58,47 
878 764 
Nusa Tenggara Barat
Padi
2009
374 279 
49,98 
1 870 775 
Nusa Tenggara Timur
Padi
2009
194 219 
31,27 
607 359 
Kalimantan Barat
Padi
2009
418 929 
31,05 
1 300 798 
Kalimantan Tengah
Padi
2009
214 480 
26,98 
578 761 
Kalimantan Selatan
Padi
2009
490 069 
39,93 
1 956 993 
Kalimantan Timur
Padi
2009
146 177 
38,01 
555 560 
Sulawesi Utara
Padi
2009
114 745 
47,85 
549 087 
Sulawesi Tengah
Padi
2009
211 232 
45,14 
953 396 
Sulawesi Selatan
Padi
2009
862 017 
50,16 
4 324 178 
Sulawesi Tenggara
Padi
2009
98 130 
41,51 
407 367 
Gorontalo
Padi
2009
48 042 
53,48 
256 934 
Sulawesi Barat
Padi
2009
64 973 
47,82 
310 706 
Maluku
Padi
2009
21 252 
42,29 
89 875 
Maluku Utara
Padi
2009
13 711 
33,73 
46 253 
Papua Barat
Padi
2009
10 486 
35,27 
36 985 
Papua
Padi
2009
26 336 
37,41 
98 511 

Sebagai suatu hasil dari pertumbuhan output / produktivitas yang tinggi di pertanian, perbedaan dalam produktivitas  antara pedesaan yang didominasi oleh kegiatan pertanian dan perkotaan dengan industry manufaktur, keuangan, kontruksi, transportasi, dan jasa sebagai sector-sektor utama tidak membesar terlalu cepat bagi migrasi tenaga kerja untuk menahan upah tetap terkait dengan produktivitas.
Dibawah ini data perubahan produksi, luas panen dan produktivitas menurut jenis komoditi padi di Indonesia. Pada table ini ditunjukkan bahwa dari tahun 2007 sampai 2010 produksi padi meningkat sekitar 2.000.000 ton, tetapi pada tahun 2011 menurun 1.000.000 ton atau -1,10%. Begitupun dengan luas lahan dan produktivitasnya, pada tahun 2007 luas lahan padi menunjukan sekitar 12.148.000 ha dan mengalami peningkatan tiap tahun sampai 2010 dengan 13.253.000 ha atau 0,39%. Dan produktivitasnya pun mengalami kenaikan tiap tahunnya yaitu pada tahun 2007 dengan 47,05 ku/ha dan pada tahun 2010 menjadi 50,15 ku/ha dan mengalami penurunan pada tahun 2011 yaitu menjadi 49,80 ku/ha atau 0,70%.
Begitu pula dengan data pada padi sawah yang mengalami kenaikan tiap tahun dari tahun 2007 dengan54.200.000 ton sampai 2010 dengan 63.018.000 ton tetapi mengalami penurunan juga pada tahun 2011 menjadi 62.513.000 ton atau 0,80%. Begitu pula dengan produktivitasnya yang mengalami kenaikan dari tahun 2007 dengan 49,09 ku/ha sampai 2010 dengan 52,00 ku/ha dan pada tahun 2011 mengalami penurunan menjadi 51,38 ku/ha atau 1,19% Tapi tidak dengan luas panen pada padi sawah yaitu selalu mengalami keniakan tiap tahun dari 2007 dari 11.041.000 ha sampai 2011 dengan 12.167.000 ha atau naik 0,40%.
Dan pada padi ladang pun di tahun 2007 sampai 2010 produksi mengalami kenaikan yaitu dari 2.958.000 ton sampai 3.451.000 ton dan mengalami penurunan pada tahun 2011 menjadi 3.228.000 ton ini sama dengan jumlah produksi pada tahun 2009 atau mengalami penurunan sekitar 6,46%. Pada luas panennya padi lading mengalami turun naik dari 2007 dengan 1.106.000 ha dan mengalami penurunan di tahun 2008 menjadi sekitar 1.070.000 ha yang kemudian mengalami sedikit kenaikan sampai tahun 2010 yaitu mencapai 1.135.000 ha, dan mengalami penurunan kembali pada tahun 2011 yaitu dengan luas 1.034.000 ha atau menurun 8,85%.



Produksi, Luas Panen dan Produktivitas Padi di Indonesia


No.


Jenis komoditi

Tahun
Pertumbuhan
2007
2008
2009
2010
2011*)
2011 over 2010
(%)
1
Padi






Produksi (000 Ton)
57.157
60.326
64.399
66.469
65.741
-1,10
Luas Panen (000 Ha)
12.148
12.327
12.884
13.253
13.201
-0,39
Produktivitas (Ku/Ha)
47,05
48,94
49,99
50,15
49,80
-0,70

2
Padi Sawah






Produksi (000 Ton)
54.200
57.170
61.171
63.018
62.513
-0,80
Luas Panen (000 Ha)
11.041
11.258
11.797
12.119
12.167
0,40
Produktivitas (Ku/Ha)
49,09
50,78
51,85
52,00
51,38
-1,19

3
Padi Ladang






Produksi (000 Ton)
2.958
3.156
3.228
3.451
3.228
-6,46
Luas Panen (000 Ha)
1.106
1.070
1.086
1.135
1.034
-8,85
Produktivitas (Ku/Ha)
26,73
29,51
29,71
30,42
31,21
2,60

Sumber : Badan Pusat Statistik dan Direktorat Jenderal Tanaman
Keterangan : *) Angka Sementara


C.  Ketahanan Pangan
1.   Pentingnya ketahanan pangan

Ketahan pangan sangatlah penting tidak hanya dilihat dari dari nilai ekonomi dan social tapi, politik juga. Bila didalam negri atau di Indonesia terancam kekurangan pangan atau kelaparan maka staabilitas politik didalam negri pun akan tergaggu. Selain itu ketahanan pangan didalam negri juga penting untuk peran Indonesia di lembaga Organisasi Perdagangan Dunia (WTO).

2.  Konsep Ketahanan Pangan

Konsep ketahanan pangan tercatat dalam UU no.7  tahun 1996 tentang pangan, passal 1 ayat 17 yaitu “ ketahanan pangan adalah kondisi terpenuhinya pangan rumah tangga (RT) yang tercermin dari tersedianya pangan yang cukup,  baik jumlah maupun mutunya, aman, merata, dan terjangkau.”
Pada tahun 2005, melalui UU no.11/2005. Pemerintah merativikasi kovenan Internasional Hak Ekonomi  Sosial Budaya (kovenan Ekosob) yang berisi tentang tanggung jawab Negara dalam menghormati, melindungi dan memenuhi hak atas pangan bagi rakyatnya. Konsekuensinya pemerintah harus merubah semua UU tentang Ekosob termasuk U no.7 tahun 1996. Alasannya yaitu :
a.   Perlindungan hak rakyat atas pangan oleh Negara merupakan kewajiban hakiki
b.   UU dapat menjadi penjamin atas pemenuhan tanggung jawab pemerintah dalam mensejahterakan rakyatnya melalui pemenuhan pangan yang berkesinambungan
c.    Krisis pangan yang melanda dunia merupakan pelajaran berharga tentang pentingnya suatu bangsa memiliki kedaulatan atas pangan untuk menjamin kecukupan pangan bagi warga negaranya
d.   Pembangunan ekonomi bisa berkelanjutan jika pemenuhan hak dasar rakyat atas pangan terpenuhi.



3.  Factor Utama Penentu Ketahanan Pangan di Indonesia

Factor yang berpengaruh terhadap kinerja pertnian Indonesia adalah ketersediaan dan kualitas lahan, infrastruktur (khususnya irigasi), teknologi dan kualitas petani dan buruh tani, energy (terutama listrik dan bahan baar minyak), permodalan, dan cuaca.
a.  Lahan

Luas lahan padi menurut provinsi 2007 – 2011 (Ha)

No.
Provinsi
Tahun
Pertumbuhan
2007
2008
2009
2010
2011*)
2011 over 2010
(%)
1
Aceh
360.717
329.109
359.375
352.281
380.686
8,06
2
Sumatera Utara
750.232
748.540
768.407
754.674
757.428
0,36
3
Sumatera Barat
423.655
421.902
439.542
460.497
461.711
0,26
4
Riau
147.167
147.796
149.423
156.088
145.242
-6,95
5
Riau Kepulauan
117
134
144
396
387
-2,27
6
Jambi
149.888
143.034
155.802
153.897
157.441
2,30
7
Sumatera Selatan
691.467
718.797
746.465
769.478
784.820
1,99
8
Bangka Belitung
9.010
6.266
8.063
8.180
5.286
-35,38
9
Bengkulu
123.853
127.506
132.975
133.629
123.821
-7,34
10
Lampung
524.955
506.547
570.417
590.608
606.973
2,77
11
DKI Jakarta
1.544
1.640
1.974
2.015
1.723
-14,49
12
Jawa Barat
1.829.085
1.803.628
1.950.203
2.037.657
1.964.457
-3,59
13
Banten
356.803
362.637
366.138
406.411
397.021
-2,31
14
Jawa Tengah
1.614.098
1.659.314
1.725.034
1.801.397
1.724.246
-4,28
15
DI Yogyakarta
133.369
140.167
145.424
147.058
150.827
2,56
16
Jawa Timur
1.736.048
1.774.884
1.904.830
1.963.983
1.926.796
-1,89
17
Bali
145.030
143.999
150.283
152.190
152.585
0,26
18
Nusa Tenggara Barat
331.916
359.714
374.279
374.284
418.062
11,70
19
Nusa Tenggara Timur
166.753
187.907
194.219
174.674
195.201
11,75
20
Kalimantan Barat
399.832
423.601
418.929
428.461
444.719
3,79
21
Kalimantan Tengah
229.665
205.684
214.480
247.577
214.373
-13,41
22
Kalimantan Selatan
505.846
507.319
490.069
471.166
489.134
3,81
23
Kalimantan Timur
155.484
157.341
146.177
150.031
140.343
-6,46
24
Sulawesi Utara
103.189
109.951
114.745
119.771
122.108
1,95
25
Gorontalo
44.548
46.942
48.042
45.937
52.811
14,96
26
Sulawesi Tengah
204.342
211.876
211.232
208.628
221.129
5,99
27
Sulawesi Selatan
770.733
836.298
862.017
886.354
889.232
0,32
28
Sulawesi Barat
66.630
72.471
64.973
75.923
76.347
0,56
29
Sulawesi Tenggara
110.498
102.520
98.130
107.751
118.916
10,36
30
Maluku
15.352
19.142
21.252
20.233
21.227
4,91
31
Maluku Utara
14.497
14.831
13.711
16.071
16.783
4,43
32
Papua
22.957
24.461
26.336
26.686
31.198
16,91
33
Papua Barat
8.357
11.467
10.486
9.464
8.283
-12,48
Indonesia
12.147.637
12.327.425
12.883.576
13.253.450
13.201.316
-0,39

Menurut BPS pada tahun 2030 kebutuhan beras di Indonesia mencapai 59 ton. Untuk mendukung kebutuhan tersebut diperlukan luas tanam baru khususnya pada komoditas pangan. Percetakan sawah baru menemui banyak kendala termasuk biaya yang mahal, sehingga tambahan lahan pertanian tiap tahun tidak signifikan disbanding luas areal yang terkontroversi untuk keperluan nonpertanian.
Pada data table diatas dapat dilihat perubahan luas lahan padi di provinsi-provinsi di Indonesia pada tahun 2007-2011. Data menunjukkan provinsi yang memiliki lahan padi yang terluas adalah jawa barat yang selalu meningkat tiap tahunnya, yang tertinggi adalah pada tahun 2010 yaitu 2.037.657 ha lebih luas disbanding jawa timur yang lebih banyak memproduksi padi. Tapi pada tahun 2011 luas lahan di jawa bbarat mengalami penurunan menjadi 1.964.457 ha atau -3,59%. Sedangkan luas lahan padi yang terkecil terdapat pada provinsi kepulauan riau yang memiliki luas lahan padi pada tahun 2007 sebesar 117 ha, dan mengalami kenaikan sampai tahun 2010 dan mencapai luas tertinggi pada tahun 2010 yaitu sebesar 396 ha, sedangkan pada tahun 2011 luas lahan padi di kepulauan riau mengalami penurunan yaitu menjadi 387 ha atau -2,27%.

b.  Infrastruktur
Irigasi merupakan bagian terpenting dari infrastruktur pertanian.ketersediaan jaringan irigasi yang baik dapat meningkatkan volume produsi dan kualitas komoditas pertanian, terutama tanaman pangan. Jaringan irigasi yang baik akan mendorong peningkatan indeks pertanaman. Dari data dibawah ini dapat disimpulkan bahwa luas lahan sawah terbesar dimiliki oleh provinsi jawa timur yang mengalami penurunan tiap tahunnya hingga pada tahun 2006 mencapai 1.096.479 ha, dan mengalami sedikit kenaikan hingga mencapai 1.108.578 ha pada tahun 2008. Sedangkan luas lahan irigasi terendah yaitu pada provinsi kepulauan riau pada tahun 2008 memiliki 113 ha.


Luas Lahan Sawah (Irigasi + Non Irigasi) Menurut Provinsi, 2003-2008 (Ha)
No.
Provinsi
tahun
2003
2004
2005
2006
2007
2008
1
Nanggroe Aceh Darussalam
348.232
346.305
356.649
315.277
312.803
323.010
2
Sumatera Utara
538.180
502.839
462.767
460.486
453.372
478.521
3
Sumatera Barat
225.369
231.939
228.176
229.469
225.774
224.442
4
Riau
128.225
125.966
118.955
124.985
128.242
122.255
5
Jambi
120.552
122.126
117.482
119.242
117.543
116.212
6
Sumatera Selatan
512.510
474.429
484.207
523.922
530.204
569.659
7
Bengkulu
88.432
85.641
84.164
83.885
94.632
89.315
8
Lampung
303.380
316.017
313.621
317.413
342.507
348.732
9
Bangka Belitung
3.186
3.773
4.111
4.048
4.176
3.506
10
Riau Kepulauan


76
82
90
113
11
DKI Jakarta
2.738
2.563
1.866
1.466
1.200
1.200
12
Jawa Barat
934.140
932.337
925.900
926.782
934.845
945.544
13
Jawa Tengah
995.469
996.197
995.972
992.455
990.824
990.652
14
DI Yogyakarta
57.612
56.982
57.188
56.218
55.540
55.332
15
Jawa Timur
1.115.239
1.108.361
1.100.574
1.096.479
1.096.605
1.108.578
16
Banten
207.530
196.589
196.122
198.571
196.370
195.583
17
Bali
81.870
81.557
80.211
79.252
80.251
80.873
18
Nusa Tenggara Barat
226.627
222.968
227.423
227.395
231.129
230.986
19
Nusa Tenggara Timur
103.341
109.070
100.194
112.715
122.649
124.161
20
Kalimantan Barat
253.316
283.021
292.220
321.838
290.392
292.687
21
Kalimantan Tengah
156.645
167.776
159.516
166.703
159.059
157.406
22
Kalimantan Selatan
420.086
423.884
435.940
440.720
471.042
477.336
23
Kalimantan Timur
92.982
89.769
88.846
90.786
92.934
84.235
24
Sulawesi Utara
64.605
59.393
57.969
60.262
61.875
61.133
25
Sulawesi Tengah
121.670
120.049
113.715
119.463
128.250
129.016
26
Sulawesi Selatan
619.084
626.634
558.935
552.940
560.919
567.408
27
Sulawesi Tenggara
66.939
69.432
57.760
57.271
78.524
88.635
28
Gorontalo
27.598
25.955
25.561
25.668
27.794
31.327
29
Sulawesi Barat


60.531
54.323
50.800
53.220
30
Maluku
8.401
8.542
8.542
8.657
10.035
11.461
31
Maluku Utara
11.867
11.867
11.867
11.867
11.782
13.630
32
Papua Barat
4.719
6.290
7.051
7.735
8.395
9.116
33
Papua
36.021
36.021
28.970
28.970
26.397
29.549
Total
7.876.565
7.844.292
7.763.081
7.817.345
7.896.954
8.014.833


c.   Teknologi dan Sumber Daya Manusia

Teknologi dan SDM menentukan keberhasilan Indonesia dalam mencapai ketahanan pangan. Teknologi dan SDM  merupakan dua factor produksi yang sifatnya komplementer dan berlaku disemua sector ekonomi, termasuk pertanian.
Di Indonesia kualitas SDM di pertanian sangat rendah disbanding sector-sektor ekonomi lainnya.

Presentase petani menurut tingkat pendidikan formal di Indonesia tahun 2003 (%)
Tingkat pendidikan
Jawa
Di luar jawa
Indonesia
Tidak ada pendidikan
34,44
28,83
31,62
Hanya premier
48,07
41,93
44,98
Sekunder
15,8
27,56
21,71
Tersier
1,69
1,68
1,69
Jumlah
100,00
100,00
100,00
Sumber; BPS
Dapat disimpulkan bahwa petani berpendidikan rendah terbanyak terdapat didaerah pulau jawa yaitu premier atau sekolah dasar (SD) sekitar 48,07% dari jumlah seluruh petani di pulau jawa. Sedangkan pendidikan sekunder atau menengah tertinggi yaitu diluar pulau jawa sekitar 27,56% dari jumlah petani diluar pulau jawa. Secara keseluruhan para petani di Indonesia kebanyakan memiliki tingkat pendidikan hhanya premier atau sekolah dasar (SD).

d.  Energy

Energy sangat penting dalam kegiatan pertanian, contohnya listrik atau bahan bakar minyak (BBM) yang digunakan oleh petani dalam kegiatan bertaninya (dalam penggunaan traktor).  Kenaikan BBM pada era reformasi mengakibatkan naiknya biaya produksi dan akan mengurangi keuntungan petani. Selain itu kenaikan harga BBM membuat biaya transportasi naik , ini tercermin dalam menurunnya nilai tukar petani pada saat itu.
Pada table dibawah ini menunjukan perkembangan Nilai Tukar Petani (NTP) pada tahun 2011. Dapat terlihat selama tahun 2011 NTP naik tiap bulannya, walaupun tidak signifikan tetapi NTP mengalami kenaikkan yang pasti. Yaitu pada januari NTP sekitar 103,01 dan di bulan November sekitar 105,64 dalam waktu 1tahun NTP mengalami kenaikan hanya sekitar 2,63

Perkembangan NTP selama tahun 2011
Bulan
Rincian
Indeks diterima (IT)
Indeks dibayar (IB)
NTP
Januari
135,72
131,76
103,01
Februari
136,36
131,96
103,33
Maret
136,34
131,95
103,32
April
136,53
131,40
103,91
Mei
137,38
131,46
104,50
Juni
138,25
131,92
104,79
Juli
139,099
132,63
104,87
Agustus
140,27
133,45
105,11
September
140,71
133,80
105,17
Oktober
141,37
133,99
105,51
November
142,05
134,47
105,64
Sumber; BPS 2011

e.  Modal

Salah satu penyebab rapuhnya ketahanan pangan adalah keterbatasan dana di dalam negri. Kekurangan modal juga menjadi penyebab banyak petani tidak memiliki mesin giling sendiri. Padahal jika para petani masing-massing memiliki mesin sendiri maka distribusi bertambah pendek dan kesempatan para petani untuk mendapatkan keuntungan lebih besar.

Alokasi kredit menurut sector, 2004- maret 2008 (triliun rupiah)
Sector
2004
2005
2006
2007
2008
% pertumbuhan 2008 terhadap 2007
Pertanian
33,14
37,17
43,21
43,23
57,05
31,96
Petambangan
7,81
8,12
11,15
15,74
28,85
83,29
Perindusrian
144,91
171,28
180,28
183,48
213,16
16,17
Listrik,gas & air
5,98
5,36
5,22
5,63
9,91
76,02
Konstruksi
19,97
26,98
33,82
33,62
44,67
32,86
Perdagangan, restoran & hotel
113,07
135,83
156,93
167,54
213,97
27,71
Pengangkutan, pergudangan & komunikasi
17,66
19,82
26,41
25,99
40,58
56,13
Jasa dunia usaha
56,35
72,62
74,99
82,09
114,77
39,80
Jasa social/ masyarakat
8,04
10,02
10,28
10,44
12,8
22,60
Lain-lain
152,49
208,37
224,73
232,58
300,27
29,10

Dari data diatas dapat disimpulkan bahwa pertanian bukan sector terbesar dalam penerimaan kredit dari sumber-sumber formal, khususnya perbankan. Alasanya yaitu karna pertanian padi bukan merupakan bisnis yang menghasilkan keuntungan besar dan ini berarti bukan jaminan bagi perbankan kalu pinjaman dapat dikembalikan. Selain itu karna tidak adanya asset yang bisa digunakan sebagai agunan, seperti rumah atau tanah.
Pada data dapat dilihat kalau pertanian pada tahun 2004 mendapat kredit sebesar 33,14 triliun rupiah dan pada tahun 2008 mendapat kredit sekitar 57,05 triliun rupiah, dengan presentase pertumbuhan dari tahun 2007 ke 2008 sekitar 31,96%. Ini lebih rendah dibanding perindustrian yang mendapat alokasi kredit pada tahun 2004 sekitar 144,91 triliun rupiah dan pada tahun 2008 sekitar 213,16 triliun rupiah, dengan presentase pertumbuhan dari tahun 2007 sampai 2008 sekitar 16,17%. 


f.   Cuaca

Pemanasan global menimbulkan musim hujan dan musim kemarau yang tak terkendali. Pola tanam dan estimasi produksi pertanian serta persediaan stok pangan jadi sulit diprediksi dengan baik. pertanian merupakan sector yang paling rentan terkena dampak perubahan iklim, apalagi kekeringan yang berkepanjangan. Sedangkan pertanian membutuhkan air yang tidak sedikit.
Dampak langsung dari pemanasan global terhadap pertanian di Indonesia yaitu penurunan produktivitas dan tingkat produksi sebagai akibat terganggunya siklus air. Perubahan pola hujan dan meningkatnya frekuensi anomaly cuaca ekstrim yang mengakibatkan pergeseran waktu, musim dan pola tanam.


 

 

Kesimpulan


Di Indonesia, pertanian merupakan salah satu sector penting, karna dapat mempengaruhi Pendapatan Domestic Bruto (PDB). Maka dari itu, perlu adanya pembangunan dibidang di bidang pertanian tersebut. Salah satunya adalah dengan melakukan revolusi hijau pada masa Orde Baru. Yang tujuannya untuk meningkatkan produktivitas di sector pertanian untuk mencapai swasembada pangan dan untuk mendukung pembangunan industry nasional.
Perkembangan sector pertanian dapat dilihatdari kontribusi PDB dan pertumbuhan output. Yang dari data menunjukan bahwa:  kontribusi PDB tiap tahunnya meningkat. Sedangkan pada table data pertumbuhan output dan produktivitas menunjukan luas panen Indonesia pada tahun 2009 adalah yang paling luas dibandingkan provinsi lain yaitu 12.883.576 ha, sedangkan yang terkecil dimiliki oleh kepulauan riau hanya sekitar 144 ha. Dari data ini juga dapat dilihat provinsi yang memiliki produktivitas yag tertinggi adalah jawa timur sebesar 59,11 ku/ha dengan produksi 11.259.085 ton, sedangkan provinsi yang memiliki produktivitas rendah yaitu Bangka Belitung 24,64 ku/ha dengan produksi 19 864 ton.
Ketahanan pangan erat kaitannya dengan pertanian karna mencerminkan kenmampuan  Negara tersebut dalam keberhasilan pembangunan disektor pertania. Konsep ketahanan pangan terdapat pada UU no.7 tahun 1996, pasal 1 ayat 17 tentang pangan yang berisi “ketahanan pangan adalah kondisi terpenuhinya pangan rumah tangga (RT) yang tercermin dari tersedianya pangan yang cukup,  baik jumlah maupun mutunya, aman, merata, dan terjangkau.” Tetapi walupun bergitu banyak yang berpendapat UU tersebut tidak sesuai dan harus dirubah.
Ketahanan pangan sanggat dipengaruhi oleh ketersediaan dan kualitas lahan, infrastruktur (khususnya irigasi), teknologi dan kualitas petani dan buruh tani, energy (terutama listrik dan BBM), permodalan dan cuaca.

Daftar pustaka

-          Dr. Tulus T.H Tambunan, Perekonomian Indonesia- Pertanian dan tanaman pangan
-          www.Deptan.go.id
-          www.BPS.go.id
-          Litbang.deptan.go.id
-          BKPM.go.id
-          Kementrian pertanahan

4 komentar:

  1. Selamat siang, Saya seorang pemberi pinjaman uang pribadi terdaftar. Kami memberikan pinjaman untuk membantu orang, perusahaan yang perlu memperbarui status keuangan mereka di seluruh dunia, dengan Suku Bunga tahunan yang sangat Minimal Low 2% dalam waktu satu tahun sampai 30 tahun periode durasi pembayaran untuk setiap bagian dari dunia. Kami memberikan pinjaman dalam kisaran 5.000 euro € 100.000.000. Pinjaman kami diasuransikan dengan baik, untuk keamanan maksimum adalah prioritas kami. Orang yang tertarik harus menghubungi kami melalui email: (24hourstloancompany1@gmail.com)

    Apakah Anda pernah ditolak oleh banyak bank
    Anda perlu membiayai untuk ekspansi bisnis Anda,
    Anda membutuhkan pinjaman pribadi

    Mengajukan pinjaman, turunkan rincian di bawah ini:
    1. Nama Lengkap
    2. Alamat
    3. Jumlah
    4. Durasi Masa
    5.Phone Nomor
    6. Pekerjaan

    Mrs Farida Stephen

    BalasHapus
  2. Apakah Anda membutuhkan pinjaman pribadi atau pinjaman bisnis? tawaran kami adalah yang terbaik dan dapat diandalkan menawarkan untuk Anda. Jumlah Pinjaman: $ 1.000 hingga $ 10.000.000 untuk periode durasi 1 sampai 25 tahun. Dapatkan pinjaman Anda disetujui dalam waktu 5 hari, Jika Anda tertarik, hubungi kami sekarang untuk informasi lebih lanjut tentang email: globalfundshare@gmail.com dan mengisi formulir aplikasi pinjaman.

    * Nama lengkap:
    * Negara:
    * Usia:
    * Seks:
    * Status pernikahan
    * Nomor handphone:
    * Gaji perbulan:
    * Pendudukan:
    * Jumlah pinjaman yang diperlukan:
    * Durasi Pinjaman:
    * Tujuan pinjaman:
    * Scan copy KTP yang masih berlaku:
    Terima kasih
    Salam.

    BalasHapus
  3. KABAR BAIK!!!

    Nama saya Aris Mia, saya ingin menggunakan media ini untuk mengingatkan semua pencari pinjaman sangat berhati-hati, karena ada penipuan di mana-mana, mereka akan mengirim dokumen perjanjian palsu untuk Anda dan mereka akan mengatakan tidak ada pembayaran dimuka, tetapi mereka adalah orang-orang iseng, karena mereka kemudian akan meminta untuk pembayaran biaya lisensi dan biaya transfer, sehingga hati-hati dari mereka penipuan Perusahaan Pinjaman.

    Beberapa bulan yang lalu saya tegang finansial dan putus asa, saya telah tertipu oleh beberapa pemberi pinjaman online. Saya hampir kehilangan harapan sampai Tuhan digunakan teman saya yang merujuk saya ke pemberi pinjaman sangat handal disebut Ibu Cynthia, yang meminjamkan pinjaman tanpa jaminan dari Rp800,000,000 (800 juta) dalam waktu kurang dari 24 jam tanpa tekanan atau stres dan tingkat bunga hanya 2%.

    Saya sangat terkejut ketika saya memeriksa saldo rekening bank saya dan menemukan bahwa jumlah yang saya diterapkan, telah dikirim langsung ke rekening bank saya tanpa penundaan.

    Karena saya berjanji bahwa saya akan membagikan kabar baik, sehingga orang bisa mendapatkan pinjaman mudah tanpa stres. Jadi, jika Anda membutuhkan pinjaman apapun, silahkan menghubungi dia melalui email nyata: cynthiajohnsonloancompany@gmail.com dan oleh kasih karunia Allah ia tidak akan pernah mengecewakan Anda dalam mendapatkan pinjaman jika Anda menuruti perintahnya.

    Anda juga dapat menghubungi saya di email saya: ladymia383@gmail.com dan Sety yang memperkenalkan dan bercerita tentang Ibu Cynthia, dia juga mendapat pinjaman baru dari Ibu Cynthia, Anda juga dapat menghubungi dia melalui email-nya: arissetymin@gmail.com sekarang, semua akan saya lakukan adalah mencoba untuk memenuhi pembayaran pinjaman saya bahwa saya kirim langsung ke rekening mereka bulanan.

    Sebuah kata yang cukup untuk bijaksana.

    BalasHapus